Filosofi Tokoh Wayang Bagong




      Dalam kisah pewayangan tokoh bagong digambarkan sebagai sosok yang bertubuh gemuk, bermata bulat lebar, bermulut lebar dan memiliki watak yang gemar bercanda atau bergurau. Bagong lahir dari bayangan Sang Hyang Semar atau Bathara Ismaya yang diturunkan ke dunia. 
Cerita Singkat Bagong
         Bagong bukanlah anak kandung Semar, di mana Semar adalah jelmaan Batara Ismaya yang turun ke dunia bersama Togog (Batara Antaga), kakaknya. Mereka mendapat utusan untuk mengasuh keturunan adik mereka yang bernama Batara Guru.
      
Hingga di suatu ketika, Semar dan Togog memohon kepada Sang Hyang Tunggal seseorang yang menemani mereka dalam perjalanan mereka masing-masing. Diwujudukanlah permohonan tersebut dengan satu pertanyaan, yaitu ‘siapa teman sejati manusia?’. Saat itu Togog menjawab ‘hasrat’, sedangkan Semar menjawab ‘bayangan’. Hingga Sang Hyang Tunggal pun menciptakan teman Togog dari hasrat Togog di mana ia adalah seorang manusia kerdil dan diberi nama Bilung. 
          Sedangkan Semar mendapatkan teman yang diciptakan dari bayangannya yang mana ia adalah manusia bertubuh bulat dan diberi nama Bagong. Sehingga, menurut cerita ini, bisa dikatakan bahwa Bagong adalah bayangannya Semar.
Animasi Gambar Wayang Punakawa
       Konon bagong dalam filosofi pewayangan memiliki watak yang jujur dan juga sabar, Ia tak pernah berteriak ataupun memberontak saat keadaan terjepit, Ia tak pernah marah ataupun protes atas himpitan atau tekanan yang menimpa dirinya. 
      Gaya bicara bagong yang jujur, blak blakan serta semaunya sendiri pernah digunakan para dalang untuk mengkritisi pemerintah kolonial belanda. Ketika Sultan Agung wafat pada tahun 1645, putranya yang bergelar Amangkurat I menggantikannya sebagai pemimpin Kesultanan Mataram. 
      Raja baru ini berbeda dari ayahandanya. Ia memerintah secara sewenang-wenang serta menjalin kerja sama dengan pemerintah kolonial belanda. Keluarga kesultanan Mataram saat itupun terpecah belah. Ada yang mendukung pemerintahan Amangkurat I yang pro-Belanda, ada pula yang menentangnya. 
      Dalam hal pewayangan pun terjadi perpecahan dan terbagi menjadi dua golongan yaitu golongan Nyai Anjang Mas yang anti-Amangkurat dan Kyai Anjang Mas yang pro-Amangkurat. Rupanya pihak Belanda tidak menyukai tokoh Bagong karena dianggap mengkritisi pemerintah kolonial.
     Oleh sebab itu maka golongan Kyai Anjang Mas menghilangkan tokoh Bagong dan Nyai Anjang Mas tetap mempertahankannya. Selanjutnya setelah keruntuhan kerajaan Mataram dan berganti nama menjadi kerajaan Kartasura dan berganti nama menjadi Kasunanan Kartasura. Selanjutnya terjadi perpecahan yang kemudian berakhir dengan dinobatkannya Sri Sultan Hamengkubuwana I  yang berkuasa di Yogyakarta.

Filosofi yang patut kita contoh dari tokoh Bagong :
1. Dalam keadaan terjepit atau keadaan sesulit apapun kita harus tetap sabar dan tabah.
2. Jangan tergesa-gesa atau gegabah sebelum melakukan tindakan atau mengambil keputusan, pertimbangkan untung rugi dan akibat dari pengambilan keputusan atau pekerjaan.
3. Kesabaran serta ketabahan yang selalu memunculkan energi positif dan kemenagan dalam setiap akhir.

Comments

Popular posts from this blog

Pendiri Nahdlatul Ulama (NU)

Pemanfaatan Multimedia Dalam Bidang Pendidikan Teknik Elektro